PANGERANTOTO

Rabu, 25 Januari 2017

Menyebut TKI 'mengemis jadi babu,' Fahri Hamzah jadi bulan-bulanan

twitter

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dikecam oleh sejumlah pengguna media sosial karena cuitannya di Twitter yang menyebut bahwa warga Indonesia 'mengemis menjadi babu di negeri orang'.
"Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela..." begitu isi lengkap cuitannya Selasa (24/01) pagi, yang tak lama dihapus itu.
Ada sejumlah hal yang dikritisi oleh para aktivis. Pertama, tentang sebutan 'babu' yang dianggap merendahkan profesi asisten rumah tangga di luar negeri.
Direktur Migrant Care Anis Hidayah dalam cuitannya mengatakan, "tak ada yang mengemis, mereka bekerja sebagai PRT di luar negeri secara terhormat. Apakah Anda sudah memartabatkan mereka? Revisi UU TKI jalan di tempat sejak 2010."
Yang dimaksud Anis adalah UU Nomor 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri yang revisinya menjadi salah satu program legislasi nasional prioritas 2016. Hingga kini belum ada kejelasan kapan revisi itu rampung. 


Anis juga menghubungkan cuitan ini dengan RUU Perlindungan PRT yang belum juga disahkan oleh DPR. Dia mengatakan bahwa pantas saja RUU itu 'mangkrak karena pola pikir salah satu pembuat UU-nya menganggap PRT sebagai babu.'
Sandra Waroruntu, seorang aktivis pekerja migran asal Indonesia di Amerika Serikat ikut memprotes. "Saya, anak bangsa ke luar negeri untuk bekerja, bukan mengemis menjadi BABU, tolong diralat! Anda menghina anak bangsa."
"Miris banget ya negarawan, kerjanya menghina anak bangsa, gak pernah mikirin agar lebih baik, bisa ya begitu?" cuit yang lain.




anis

Berawal dari 'palu arit'

Dalam cuit terbarunya, Fahri Hamzah berkilahbahwa konteks pernyataannya dilatari oleh cuit-cuit sebelumnya tentang kasus palu arit yang menjerat Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Dia membela Rizieq dengan mengungkapkan kekecewaannya terkait respons polisi yang dia nilai tak tepat.
"Maka saya curiga bahwa keributan (palu arit) ini adalah pengalihan isu dari banyak kasus yang seharusnya kita fokus. Saya mengambil contoh soal tenaga kerja kita yang karena kesulitan hidup terpaksa bekerja di tempat lain,' cuitnya.
Seperti diketahui, Rizieq Shihab dilaporkan setidaknya oleh dua pihak - yaitu Jaringan Intelektual Muda Anti-Fitnah (JIMAF) Solidaritas Merah Putih - atas pernyataan yang menuduh uang kertas Rupiah memuat lambang palu arit.
"Semuanya pakai palu arit. Yang 2.000, 10.000, 50.000 pakai palu arit. Yang 1.000 pakai palu arit. Ini negara Pancasila atau PKI?" begitu pidato Rizieq yang dipermasalahkan. Fahri beranggapan ucapan Rizieq harusnya diteliti oleh polisi kebenarannya.

Fahri yang juga menjabat sebagai ketua tim pengawas TKI (DPR-RI) menjelaskan mengapa dia menyebut 'babu' dan 'mengemis'. "Saya menyebut anak bangsa mengemis karena ada yang lebih ekstrem dijual dan diperbudak. Saya sebut istilah babu karena ada yang lebih ekstrem dibunuh dan disekap serta ditindak," katanya.
Dia kemudian meminta maaf atas ucapannya karena banyak yang marah.
Dan, tak semua orang merasa selesai dengan itu.
"Cuma kelas tukang adu domba... sayang banget pajak yang dibayar buat gaji dan tunjangan-tunjangan orang sekelas Anda," kata @MiminkSuryadi. Lainnya berkomentar, "minta maaflah sama yang dikatain babu, bukan sama yang marah-marah untuk mengingatkanmu untuk berbicara sopan," kata @tudiro.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar